Labels

Showing posts with label WAWASAN. Show all posts
Showing posts with label WAWASAN. Show all posts

August 28, 2012

Pidato Presiden Soekarno "Ganyang Malaysia" Tahun 1963

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu
karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar
cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah
dan udara kita diinjak-injak oleh
Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke
medan juang sebagai patriot Bangsa,
sebagai martir Bangsa dan sebagai
peluru Bangsa yang tak mau diinjak-
injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok
negeri bahwa kita akan bersatu untuk
melawan kehinaan ini kita akan
membalas perlakuan ini dan kita
tunjukkan bahwa kita masih memiliki
Gigi yang kuat dan kita juga masih
memiliki martabat.
Yoo...ayoo... kita... Ganjang... Ganjang...
Malaysia Ganjang...Malaysia Bulatkan
tekad Semangat kita badja Peluru kita
banjak Njawa kita banjak Bila perlu
satoe-satoe!
Soekarno.
Kronologis :
15-1-1963 : Demontran Malaysia
didukung pemerintahnya menginjak2
lambang negara RI, membakar
bendera, menghina Soekarno.
20-1-1963 : Indonesia menyatakan
Malaysia sebagai Musuh
12-4-1963 : Pasukan Sukarelawan
Indonesia sudah mulai memasuki
Sarawak dan Sabah.
03-5-1963 : Rapat raksasa di lap.Ikada,
Soekarno mengumumkan perintah
Dwikora
27-7-1963 : Perintah Ganyang Malaysia
16-8-1963 : Rejimen Askar Melayu
DiRaja berhadapan dengan lima puluh
gerilyawan Indonesia.
16-9-1963 : Brunei dan Singapore
keluar dari Federasi Malaysia
18-9-1963 : Kedutaan Indonesia di
Malaysia diserang dan menangkap
Agen Indonesia
Mei 64 : Pasukan Indonesia mulai
menyerang wilayah di Semenanjung
Malaya
Jun 64 : Indonesia mengerahkan
pasukan penuh di perbatasan
Kalimantan dan Sumatera
Jul 64 : Malaysia meminta bantuan
Persemakmuran Inggris, Australia dan
Selandia Baru.
10-8-1964 : Tercatat 200 pasukan
khusus Indonesia (Kopassus) tewas
dan 2000 pasukan khusus Inggris/
Australia (SAS) juga tewas setelah
bertempur di belantara kalimantan
17-8-1964 : Pasukan terjun payung
Indonesia mendarat dipantai barat
daya Johor dan mencoba membentuk
pasukangerilya.
02-9-1964 : Pasukan terjun payung
didaratkan di Labis, Johor.
29-10-1964 : 52 tentara mendarat di
Pontianak di perbatasan Johor-Malaka
dan membunuh Pasukan Malaysia dan
Selandia Baru.
30-10-1964 : Pasukan Indonesia
menumpas Pasukan Gerak Umum
Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu
Muara, Johor.
05-1-1965 : Pasukan Australia
menurunkan 3 Resimen Kerajaan
Australia dan Resimen Australian
Special Air Service ke Kalimantan
10-1-1965 : sekitar empat belas ribu
pasukan Inggris dan Persemakmuran di
Australia pada saat itu menerobos
masuk Kalimantan
20-1-1965 : Indonesia keluar dari PBB,
karena Malaysia diterima masuk sebagai
anggota tidak tetap
08-3-1965 : Indonesia membentuk PBB
tandingan, Conefo. Dan mendirikan
gedung 'PBB tandingan' di dekat
Ged.DPR
19-4-1965 : Konferensi Non-Blok.
28-6-1965 : Pasukan Indonesia masuk
ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau,
Sabah. bertempur dng Tentara
Malaysia.
01-7-1965 : Militer Indonesia yang
berkekuatan kurang lebih 5000 orang
melabrak pangkalan Angkatan Laut
Malaysia di Semporna.
08-9-1965 : Pengepungan 68H,
Indonesia mundur dari tanah Malaysia
30-9-1965 : Terjadi pemberontakan di
Indonesia oleh PKI
11-3-1966 : Soekarno tumbang
dikudeta, digantikan oleh Soeharto
yang didukung Inggris, Amerika,
Australia dan Selandia Baru.
28-5-1966 : konferensi di Bangkok,
Kerajaan Malaysia dan pemerintah
Indonesia mengumumkan
penyelesaian konflik .
15-6-1966 : Kekerasan antar Indonesia
dan Malaysia berakhir.
11-8-1966 : Perjanjian perdamaian
ditandatangani dan diresmikan dua
hari kemudian

Kesabaran Revolusioner


20120717Menghadap transisi demokrasi Indonesia yang alot dan berlarut-larut, banyak kalangan yang tergiur mengagendakan revolusi sebagai satu-satunya jalan keluar. Bagi mereka, masa depan yang baik mustahil dicapai lewat proses transisi evolusioner. Ia hanya mungkin diraih lewat perubahan menyeluruh secara sangat tepat, sebuah revolusi.
Mereka percaya bahwa gejala-gejala kearah revolusi sudah makin nampak, yang biasa ditunjuk adalah hancurnya kepercayaan rakyat terhadap proses politik yang biasa ditunjuk  adalah hancurnya kepercayaan rakyat terhadap proses politik dan ekonomi formal yang sedang berjalan serta tidak tercapainya ambang batas toleransi rakyat menghadapi lambannya proses dan buruknya  hasil reformasi. Mereka menyebut aksi-aksi kerusuhan dan main hakim sendiri sebagai bukti betapa kemarahan rakyat sudah meluap dan tak mungkin terbendung. Mereka pun percaya, revolusi sosial sudah diambang pintu.
Belajar dari Pengalaman sejarah revolusi di berbagai belahan dunia, serta membuka kembali studi-studi tentang itu, terlihat jelas bahwa tiap revolusi butuh infrastruktur. Revolusi bukanlah buah dari sekedar kemarahan yang tidak terkendali, ia tidak jatuh dari langit.
Secara umum revolusi butuh inftrastuktur berikut : Pembangkangan massa yang terorganisir, keretakan dan pembangkangan elite yang dikelola, adanya motiv untuk revolusi, terjadinya krisis negara berupa, lemahnya instrumen negara dalam menfungksikan regulasi. Tanpa atau setidaknya sebagian besar dari insfrastruktur ini revolusi berhenti dan menjadi pidato.
Selepas atoritarianisme orde lama dan orde baru yang bernafas panjang, kita justru menghadapi absennya infrastruktur itu. ada masyarakat yang marah tapi tak bersedia masyarakat revolusioner. Motif kemarahan tersedia bahkan melimpah ruah, tetapi tak pernah menjadi motif untuk revolusi. Ada gelombang kemarahan tetapi tak pernah bergerak maju menjadi perlawanan yang terorgansir. Ada ledakan sosial dimana-mana tetapi tak ada jaringan atau mata rantai yang menghubungkannya. Tak ada organisasi revolusi, tak ada kepemimpinan revolusioner di berbagai tingkat. Ada pembangkanan elite tetapi dalam skala kecil dengan motif kepentingan jangka pendek yang kental. Krisis negara terjadi di berbagai level tetapi tidak mampu menggoyahkan reglasi instrumen-instrumen sehiingga pemerintahan tetap bisa hidup bertahan. Maka, revolusi bukanlah jalan keluar tetapi nyayian pelipur lara.
Jalan yang menyajikan menurut saya adalah " Kesabatan revolusioner". Kesabaran revolusioner adalah gabungan dari semua kualitas berikut : Keberanian dan kemampuan menetapkan tujuan-tujuan agung/ tujuan-tujuan revolusioner yang hendak dicapai sejak mula, kerelaan mendata modal dan rencana langkah secara seksama, keikhlasan dan kemampuan menyusun dan menggunakan metode yang tepat untuk setiap medan, keadaan dan waktu yang berbeda dan rasa awas yang terus terjaga untuk membuat tak tersesat, mengalami disorientasi menjauh dari tujuan agung yang dicanangkan sejak mula.
Kesabaran revolusioner bukanlah sebuah persetubuhan dua kata yang saling membunuh."Kesabaran" adalah sebuah energi kinetik yang aktif, bukan energi potensial yang diam, tak bergerak, menunggu. Sementara " revolusioner" menunjukkan hasil akhir yang hendak dicapai, bukan waktu perubahan. Kesabaran revolusioner adalah perlengkapan untu mengubah mimpi menjadi cita-cita, cita-cita menjadi kerja nyata, dan kerja nyata menjadi hasil baik
Menggunakan jalan kesabaran revolusioner berarti menyakini bahwa proses demokratis tak saja mensyaratkan " Pemberdayaan struktural", yakni pembentukan kemampuan melawan dan membebaskan diri dari struktur yang mengungkung dengan jalan struktural. Ia pun mensyaratkan permberdayaan sosial dalam wujud mempertinggi kemampuan interaksi, membanguna organisasi dan jaringan, serta pada akhirnya mengakumulasikan modal sosial bagi demokrasi. Lebih dari itu, Ia pun mensyaratkan "Pembedayaan kognitif", dalam bentuk penyadara, pendidikan dan penanaman kesadaran orang-perorangan untuk tujuan bagi kepentingannya, menjaga haknya, menjaga hak orang lain dan orang banyak, tertumpu pada diri sendiri, dan melawan setiap kali haknya dicederai.
Untuk merebut masa depan politik Indonesia yang lebih baik, tantangan bagi jalan ini antara lain adalah ketidadaan arah, ketergesa-gesaan, lepasnya kontrol, kurangnya rasa awas dan kecendrungan untuk bergantung pada pemimpin, orang besar dan ratu adil
Saya percaya, peradaban adalah hasil akhir dari kesabaran penjang berbilang tahun, tetapi ia bukanlah kesabaran untuk membiarkan transisi yang berlarut-larut dan tak tentu arah melainkan kesabaran untuk melakukan evaluasi dan menata ulang perubahan yang sedang berjalan dan mendesaknya kearah yang semestinya.

November 9, 2011

MASA KEJAYAAN MILITER INDONESIA ERA PRESIDEN SUKARNO

indoneisa sebenernya punya hal yang bikin dunia barat gentar kalo ngadepin kita, cuma kita kena psycholgical warfare aja jadi kecut....
tanyain aja belanda yang ampe stress berat sampe bikin tanam paksa buat nyari pemasukan gara2 taktik gerilya....
ato inggris yang sampe kabakaran jenggot karena di pd II jenderalnya selamet semua, tapi di surabaya malah tewas 2 langsung....
presiden Soekarno pada jaman itu emang :top: paling disegani.
mungkin krn melihat kekuatan besar itu makanya musuh2 indonesia berupaya utk menghancurkannya dgn memusnahkan partai komunis di indonesia n melengserkan presiden Soekarno. ktanya sih :hehe: bener gaknya terserah yg baca aja deh :piss:
he eh shrsnya kita udah jadi negara komunis besar dunia
bersama2 dgn china, soviet (waktu itu) dan kuba dgn soviet sbg 'investor utama'.
tapi apa lacur ternyata soekarno lebih dulu di kudeta dalam selimut sblm terlaksana. :hammer:
ingat nasakom....nasionalisme, agama dan komunis.....jika itu digabungkan:hahai::hahai::hahai:
gak ada kejelekan faham kita....Sempurna
yah itu dulu jaman Soekarno, tapi semenjak beliau di jadiin tumbal semuanya lenyap 
:yareyare:
ganti pemerintahan ganti arah kebijakan...alhasil peralatan militer blok timur mulai berkurang drastis, Soviet juga ogah membantu pemerintahan setelah Soekarno...



1960-an, Era Presiden Sukarno.
kekuatan militer Indonesia adalah salahsatu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.
1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda.

Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat "Trikora" di Yogyakarta, dan isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.

Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat ini, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.

Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salahsatu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).
Angkatan udara Indonesia juga menjadi salahsatu armada udara paling mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15.
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.
Pesawat MiG-21 Fishbed adalah salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang.

Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang dikenal dengan nama TOP GUN.
Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.

Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti ini. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.

Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.

Ini semua membuat Indonesia menjadi salasahtu kekuatan militer laut dan udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima.

November 8, 2011

5 Ilmuwan Terkemuka Sepanjang Sejarah

Tidak diragukan lagi bahwa kontribusi para ilmuwan sangat besar bagi peradaban masa kini. Semua kemudahan yang kita nikmati saat ini adalah hasil penemuan dari mereka. Berikut adalah 5 ilmuwan terkemuka sepanjang masa:


1. Aristoteles
Aristoteles dikenal sebagai filsuf terbesar sepanjang masa. Ia memiliki pengetahuan yang luar biasa dari berbagai disiplin ilmu. Kontribusinya adalah fisika, zoologi, biologi, politik dan etika. Semua hasil karya pemikiran Aristoteles masih terasa manfaatnya hingga saat ini.
Aristoteles
Aristoteles (Sumber: Web)

2. Sir Isaac Newton
Ia mungkin adalah ilmuwan paling besar sepanjang masa. Seperti Aritoteles, Isaac Newton juga menguasai berbagai bidang disiplin ilmu sepert, matematika, fisika dan filosofi alam. Kontribusi terbesar Newton adalah Hukum Gravitasi dan tiga Hukum Gerak.

Sir Isaac Newton (Sumber: Web)

3. Galileo Galilei
Galileo Galilei dianggap ilmuwan yang memberi kontribusi sangat besar bagi kehidupan manusia. Walaupun ia dianiaya oleh Gereja, namun tak menghalangi Galileo menciptakan penemuan yang masih digunakan hingga saat ini. Ia bukan hanya seorang fisikawan, namun dikenal juga sebagai seorang astronom dan filsuf. Kontribusinya yang sangat adalah menemukan teleskop dan 2 hukum gerak.

Galileo Galilei (Sumber: Web)

4. Charles Robert Darwin
Pencetus Teori Evolusi ini memang selalu menjadi perdebatan umat manusia. Namun idenya tentang asal usul manusia, memberikan khasanah baru di dalam ilmu pengetahuan. Darwin dikenal suka berjalan ke segala penjuru dunia untuk membuktikan teorinya.

Charles Robert Darwin (Sumber: Web)

5. Albert Einstein
Jika melihat masa lalu Einstein.Tidak satupun orang menduga bahwa anak yang belum bisa bicara hingga berumur 3 tahun ini akan menjadi salah satu ilmuwan terbesar sepanjang masa. Einstein menemukan teori relativitas. Selain itu ia juga penerima nobel dibidang fisika.(**)

Albert Einstein (Sumber: Web)

November 5, 2011

Apa kabar Sang Naga penghuni sungai Kapuas Hulu?

Jakarta (29/10)-Pernah jadi ikan asin yang harganya Rp.1000/kg, namun karena dianggap pembawa rejeki dan datang dari surga, Siluk atau Arowana,-terutama yang berwarna merah diburu banyak orang. Pembeli bahkan rela mengeluarkan uang jutaan rupiah.

Sebelum diburu, Ikan yang berbadan pipih, bersisik tebal, berukuran besar, serta ‘berkumis dan berjanggut’ ini tidak begitu disukai para nelayan. Ikan yang di Kalimantan disebut Ikan Naga dan di perairan Riau disebut Ikan Surga ini dianggap buas. Selain suka memakan ikan kecil bahkan anaknya sendiri, Siluk juga memakan kodok. Namun dengan munculnya mitos yang mempercayai bahwa Ikan arowana mampu membawa keberuntungan dan ketenangan bagi pemiliknya, ikan ini kini justru menjadi primadona. Perburuan pun marak di lakukan nelayan yang dimodali para penadah. Untuk Ikan Siluk yang panjangnya sekitar 40 cm bisa dihargai sampai Rp. 2,5 juta.

Di alam bebas, Ikan Siluk Merah merupakan penghuni Sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Ironisnya, di habitat aslinya ini, populasi Siluk menurun pesat akibat penangkapan liar serta daya biaknya yang rendah. Hal ini juga yang mendorong siluk masuk dalam daftar merah Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora-CITES, yang dikategorikan genting. Artinya, siluk termasuk satwa yang jumlahnya sudah sangat sedikit dan terancam punah.

Kondisi ini juga diperkuat oleh kesaksian Juniardi, Kepala Desa Empangau, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Ia menyatakan, semenjak 30 tahun terakhir, sudah hampir tidak pernah ditemukan siluk di alam, hanya pada tahun 2009 pernah ditemukan sekali di Desa Semalah.

Pemburuan siluk telah menjadi pisau bermata ganda. Satu sisi dianggap mampu menghidupi warga setempat, namun di sisi lain jelas membuat siluk semakin langka. Untuk menjaga kepentingan masyarakat serta nasib siluk, maka masyarakat di sekitar Danau Merebung membuat peraturan dan menjaga bersama. Danau Merebung adalah salah satu dari 7 Danau di Dusun Meliau, kabupaten Kapuas Hulu yang dilindungi oleh masyarakat adat.

Salah satu upaya perlindungan secara adat yang dilakukan adalah dengan menetapkan zona ekonomi dan zona perlindungan yang membatasi masyarakat untuk berburu. Selain itu juga pembatasan ukuran ikan yang ditangkap. Secara mandiri dan dengan kesadaran yang tinggi, masyarakat melaksanakan aturan adat tersebut sekaligus mengawasi dan memberi sanksi bagi mereka yang melanggar.

Upaya perlindungan yang dilakukan masyarakat selama in membuahkan hasil. Perlahan tapi pasti, populasi ikan langka ini masih terjaga dengan baik di alam. Hal ini terbukti oleh ditemukannya induk arwana di Danau Merabung yang tidak sengaja tertangkap pancing oleh pemancing professional dari Amerika. Ukuran dan beratnya pun sungguh menakjubkan. Panjangnya 140 cm dan beratnya mencapai 6 kg. Begitu tertangkap, ikan ini lalu dibebaskan dari mata kail dan langsung dilepaskan ke Danau Merebung oleh seorang warga Dusun Meliau yang saat itu mendampingi Robert Clarke, sang pemancing asal negeri Paman Sam tersebut.

“Secara tradisional, danau Merabung dan 6 danau lainnya di dusun Meliau memang dilindungi oleh masyarakat. Namun dengan bukti penemuan ini, patut didorong agar danau-danau di Meliau perlu mendapat proteksi yang lebih formal dengan upaya pengusulan ke DKP sehingga secara resmi mendapat SK perlindungan dari pemerintah daerah,” tegas Albertus Tjiu, Project Leader WWF Kapuas Hulu.

Sejak hampir 15 tahun, WWF-Indonesia telah menggiatkan beragam upaya pendampingan masyarakat di Kapuas Hulu. Upaya perlindungan Siluk di Dusun Meliau pun juga menjadi salah satu prioritas kerja WWF di Kapuas Hulu. WWF memulai inisiatif bersama perlindungan siluk pada tahun 1997 yang saat itu dipusatkan di Danau Empangau, dusun Meliau.

Sejak dulu, Danau Empangau telah menjadi habitat Ikan siluk. Namun akibat perburuan, keberadaan ikan Siluk terancam punah pada tahun 1995-1996. Melalui upaya restocking (pelepasliaran), pembenahan pada organisasi nelayan, pemberlakukan zona danau lindung, perumusan bersama mengenai hukum adat hingga pengawasan oleh masyarakat setempat, akhirnya program pendampingan masyarakat ini pun berhasil menunjukkan dampak positifnya bagi keberlanjutan Siluk.

Sejak tahun 2000, upaya pelestarian siluk melalui restocking telah melepas 23 ekor indukan di Danau Empangau yang kini telah menghasilkan 192 anakan ikan senilai Rp. 840 juta. Ikan yang dilepas di Danau Empangau ini bersumber dari swadaya masyarakat,bantuan pemerintah daerah dan LSM lainnya. Pendekatan serupa juga akan diduplikasi di Danau Merabung dan Danau lainnya di Kapuas Hulu.


Namun sejumlah upaya perlindungan ini masih jauh dari cukup mengingat Perdagangan dan peredaran ikan arwana alam masih belum diatur dalam Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Belum lagi pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit besar-besaran yang tentu saja berdampak pada Danau di sekitarnya. Berbagai hal ini jika tidak segera menjadi perhatian, maka upaya perlindungan kawasan dan spesies yang telah dilakukan selama ini akan sia-sia belaka.
Oleh Iwan Setiawan dan Masayu Y. Vinanda

Terjadi Perang Nuklir Pada Zaman Prasejarah

 Saya yakin teman-teman semua pernah mendengar yang namanya epik Ramayana dan Mahabarata, dua epos terkenal dari India kuno yang juga sangat terkenal dilapisan masyarakat kita (khususnya wong jowo).
Epos Mahabarata mengisahkan konflik hebat keturunan Pandu dan Dritarasta dalam memperebutkan takhta kerajaan. Menurut sumber yang saya dapat, eposini ditulis pada tahun 1500 SM, dan menurut perkiraan, perang tsb meletus sekitar 5000 tahun yang lalu. Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang NUKLIR!!

Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir?
Masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa pra sejarah dan peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia. Akan selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.
Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno, dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan. Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju terhadap sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu.
Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30000 SM hingga 15000 SM. Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga Pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah. Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 BC).
Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya 'Seven Rishi City' yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara). Dalam suatu cuplikan cerita dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala, dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.
Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?
Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.
Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.
Dari berbagai sumber yang saya pelajari, secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik. Antara lain adalah :
Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC). Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir. Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis). Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi's City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo. Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.
Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari 'wahana terbang' yang disebut 'Vimana' yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir dan Amerika Selatan. Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif hingga munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.
Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo,
Republik Gabon.
Infonya:




Reaktor Nuklir Berusia 2 Miliyar Tahun di Oklo, Republik Gabon


Pada tahun 1972, ada sebuah (Perancis)perusahaan yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji


Uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya. Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak Tersebar luas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman untuk menyimpan limbah nuklir! prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami


Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua miliar tahun, setelah adanya bukti data geologi, dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir. Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia. Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya.
Hal yang patut membuat orang termenung dalam-dalam ialah bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini? Permulaan sebelum dua miliar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian ini menuju ke binasaan? Jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu. Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip? Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam.

Pemuda Pemudi Kebas Politik, Lupa Budaya, dan Perusak Bangsa: Tak Akan Ada Sumpah Pemuda Lagi

1319761872782083133
Ada yang salah dengan negeri ini. Di mana-mana tercium bau muda-mudi aneh yang sesekali saling tertawa kemudian memencet tombol remote televisi, berpindah dari satu infotainment hura-hura ke program pembodohan otak berbungkus musik, lalu berpindah lagi dari sekedar memencet tombol remote televisi menjadi memencet tombol on terhadap kenyataan ‘cara hidup enak’.
Sebuah kritik pernah menulis begini: “Negaraku tak seperti dulu, sekarang semua dibatasi, semua diatur, semua ditata, semua diberi label, seakan-akan kita hidup dalam kebun binatang. Koalisi, fraksi, dan cluster menjadi jamur. Persatuan kesatuan menjadi konsumsi kelompok dan golongan. Pembelajaran telah berubah menjadi pendidikan. Tak ada lagi budaya tutur, tak ada lagi kumpul keluarga untuk sekedar saling bercerita, para Bunda sibuk berbisnis, para Ayah sibuk selingkuh, para anak sibuk berfoya-foya. Pemuda-pemudi penerus bangsa menjadi seragam, tak punya identitas. Intelektual muda penopang negeri menjadi parasitnya benalu, tak punya ide. Memalukan, memuakkan, sayangnya, sekarang sudah banyak muncul aturan-aturan aneh seperti ‘dilarang muntah melihat pemuda-pemudi praktis-seragam-populer-ahistoris-abudaya’. Mungkin saat pemuda-pemudi ini dewasa dan memegang kursi-kursi kekuasaan Indonesia, mereka akan mengubah sila-sila di dada garuda dengan atheisme, hedonisme, materialisme, kapitalisme, dan pragmatisme. Apa negara ini memberlakukan doktrin nasakh dan mansukh? Semoga tuhan mereka tak punya musuh dan tak suka berperang.”
Perih memang jika apa yang dituliskan di atas adalah sebuah realitas yang benar-benar terjadi di sekeliling kita. Coba tengok ke kiri, dan lihat, pemuda-pemudi penerus bangsa menjadi seragam, tak punya identitas. Padahal merekalah nanti yang akan membentuk identitas bangsa, membangun budaya bangsa, menegakan negeri di tengah badai kemajuan zaman yang terlalu cepat datang. Namun, bagaimana mungkin mereka mampu, jika identitas diri saja tak pernah punya? Coba tengok ke kanan, dan lihat, intelektual muda penopang negeri menjadi parasitnya benalu, tak punya ide. Sungguh mengecewakan, identitas seragam plus ide-ide yang ternyata imitasinya palsu, benalunya parasit. Bagaimana negeri ini bisa berjalan, jika kreativitas manusianya saja tak ada bedanya dengan binatang?
Sekarang coba tengok ke atas, dan lihat apa yang diperbuat pemerintah kita menghadapi situasi sosial seperti ini, yang seakan-akan kita hidup dalam kebun binatang. Logistik pendukung logika diberantas habis oleh pemerintah dengan alasan culun: Pembangunan Indonesia. Bodoh! Anak TK pun dengan cepat sadar bahwa alasan yang diberikan pemerintah terlalu menyedihkan. Sejak 1967, tepatnya sejak Soeharto mendapat dukungan Barat untuk melakukan creeping coup d’etat (kudeta merangkak), bisa dikatakan tak ada lagi Pembangunan Indonesia, yang benar adalah Pembangunan (di) Indonesia. Miris bukan? Soeharto yang rakyat elu-elukan sebagai bapak pembangunan ternyata hanyalah sesosok “The Smilling General” dengan senyum palsu.
Negeri kita, sudah menjadi rahasia umum, bergerak menurut kebijakan-kebijakan yang dibuat IMF, terlebih dengan 50 poin Letter of Intent-nya yang telah ditandatangani saat era Soeharto. Contoh nyatanya adalah kebijakan impor beras, gula, kedeleai, dan lain-lain yang nyata-nyata merugikan petani Indonesia tapi sangat menguntungkan petani negara-negara donor. Sungguh lucu pemerintah kita ini, ketika IMF menekan Indonesia untuk membebaskan bea masuk beras dan gula sampai nol, Eropa, Amerika, dan Jepang memberlakukan bea masuk tinggi untuk produk-produk pertanian demi melindungi petani mereka. Adil kah ini? Anak TK pasti tahu ini tak ada adil-adilnya sama sekali, tapi sepertinya pemerintah kita belum lulus TK.
Rakyat mungkin dibutakan oleh silaunya gigi-gigi Soeharto, tapi kaum cendikiawan seperti mahasiswa sudah sepantasnya tidak tertipu. Apakah dengan masuknya peritel raksasa asing seperti Carrefour akan membangunIndonesia? Mungkin mahasiswa bodoh zaman sekarang yang selalu berpakaian warna-warni kasual modis dan terkesan pintar akan menjawab: iya. Mereka mungkin berkata: Kan Carrefour jadi ada di Indonesia, sebagian pekerjanya juga orang lokal, masuknya dollar lewat investasi seperti ini juga bakal memasok cadangan devisa negara. Padahal sesungguhnya kejadian seperti ini adalah tragedi nasional, dan orang-orang Indonesia hanya menjadi kuli saja di Carrefour. Apakah ini yang disebut Pembangunan Indonesia? Ataukah ini yang disebut Pembangunan (di) Indonesia.
Soeharto, Awal Pembodohan Bangsa
Mengapa kebobrokan bangsa seperti yang terungkap di atas itu terjadi? Pertanyaan yang mudah dijawab sekaligus sulit dibumikan. Apakah karena pemuda Indonesia sekarang tidak punya ide dan identitas? Mari kita runtut mengapa pemuda sekarang menjadi boneka berbaterai AA pembikin malu bangsa.
Diawali kericuhan, diakhiri pula dengan kericuhan. Adalah kalimat yang pantas jika kita memandang runtut kisah panjang yang dilalui Soeharto saat ia mengemudikan negeri ini dengan bersenjatakan Surat Ijin Mengemudi dan ketrampilan mengemudi yang baik, namun tanpa memiliki kemampuan membaca rambu-rambu lalu lintas sebagai seorang pemimpin.
Bayangkan, sejak 1965 hingga 1979, sekitar tiga juta orang meninggal karena dianggap berideologi PKI, belasan ribu dikirim ke Pulau Buru, dan jutaan lainnya menerima perlakuan diskriminatif adalah hasil legitimasi kekuasaan Soeharto. Pengiriman ribuan orang ke Pulau Buru, misalnya, sebenarnya demi mengamankan rezim yang baru lahir agar menang dalam pemilihan umum 1971 (yang seharusnya diadakan pada 1968, tapi dengan alasan belum siap, Soeharto menundarnya).
13197623411079227155
Bayangkan, 15 Januari 1974, atau yang lebih dikenal peristiwa Malari, ketika ribuan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang kala itu, Kakuei Tanaka, karena dianggap sebagai representasi dari modal asing. Mahasiswa menuntut tiga hal: pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi mengenai modal asing, dan pembubaran lembaga Asisten Pribadi Presiden (Aspri). Aksi ini kemudian diikuti ratusan ribu massa dan kemudian berujung kericuhan besar. Massa yang mengaku dari kalangan buruh itu menyerbu Pasar Senen, Blok M, dan kawasan Glodok. Mereka melakukan penjarahan serta membakar mobil buatan Jepang dan toko-toko. Belasan orang tewas, ratusan luka-luka, hampir seribu mobil dan motor dirusak dan dibakar, serta ratusan bangunan rusak. 160 kilogram emas hilang dari sejumlah toko perhiasan. Jakarta mencekam. Saking rawannya, Soeharto mesti mengantar Tanaka menumpang helikopter ke Bandara Halim.
Pemerintah menangkap 750 orang, di antaranya adalah pemimpin mahasiswa dan cendekiawan dengan berdasar UU Anti Subversi, sebuah undang-undang aneh di dalam negara yang ‘katanya’ demokrasi.
Bayangkan, bagaimana Soeharto pada masa penyatuan NKRI menggunakan jalan militer untuk merekatkan tiap tiap wilayah. Di Aceh Utara, 4 Desember 1976, Hasan Tiro mengumumkan Gerakan Aceh Merdeka. Namun mulai ditanggapi serius oleh Soeharto pada 1989 dengan menggandakan dua kali lipat pengiriman Koppasus menjadi 12 ribu orang. Begitu pula dalam diam lembah-lembah Papua, yang mulai meradang ketika hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1 Desember 1969 yang berisi keputusan menyerahkan Papua Barat menjadi bagian dari Indonesia ternyata berbeda dengan versi masyarakat Papua sendiri. Darah mulai bergejolak, hati mulai memanas, dan yang terjadi pastilah dendam disertai pembalasan.
Bayangkan, pada 27 Juli 1996, ketika kantor PDI diserang oleh 200 orang tak dikenal. Kabar yang terkuak adalah ini terjadi hanya karena ketakutan dini Soeharto terhadap putri mantan lawannya, Megawati Soekarnoputri yang terpilih sebagai ketua umum PDI. Tak jelas berapa orang yang tewas dalam peristiwa ini, tak ada laporan resmi, yang ada hanyalah simpang siur tentang penguburan massal di Jakarta Timur.
Bayangkan semua contoh kecil di atas. Miris membacanya, apa lagi mengalaminya. Memang benar bahwa Soeharto mampu membalikkan kondisi Indonesia dari pengimpor beras selama 138 tahun menjadi negara berlimpah pangan pada 1985. FAO (Food and Agriculture Organization) mengagungkan Soeharto sebagai contoh nyata keberhasilan dunia ketiga dalam usaha mencukupi kebutuhan diri sendiri. Tapi, meski beras melayah di mana-mana, Indonesia tak bisa dengan serta-merta mengekspornya. Sebab, jika beras membanjiri pasar, harga bisa anjlok.
Seperti yang ditulis dalam sebuah artikel kartun: Swasembada Pangan akhirnya jadi bumerang. Beras teronggok di lumbung-lumbung rumah petani karena tak ada yang mau membeli. Jika pun ada yang membeli, harganya jauh lebih rendah ketimbang zaman paceklik, sementara harga-harga kebutuhan lain malah naik. Akibatnya, banyak petani beralih ke pekerjaan lain: tukang batu, buka warung mie. Di beberapa daerah juga banyak orang miskin masih mengeluhkan kekurangan beras. Itu semua karena kebijakan keliru dan perhitungan yang ragu-ragu. Para birokrat hanya ingin tampil baik dan berhasil di hadapan Soeharto, meski kenyataan bertolak belakang. Soeharto di kalangan ajudannya dikenal sebagai orang yang hanya ingin mendengar berita yang baik-baik saja.
Jelas sudah dari mana mental pecundang di dalam darah manusia Indonesia sekarang berasal. Mental itu secara kognitif dan pelan merembet masuk ke alam unconscious kemudian bertumbuh lalu berakar kuat menjadi sebuah budaya yang dianggap benar. Mental yang menganggap diri hanyalah seorang budak tak punya niat dan selalu takut kalah seperti ini yang menyebabkan manusia Indonesia sekarang lebih tersenyum pada cara hidup serba praktis. Manusia Indonesia sekarang adalah sebuah masyarakat madani yang tiba-tiba muncul dan bangkit kembali pasca jatuhnya rezim Soeharto. Namun masyarakat madani ini adalah masyarakat madani yang sakit, yang tidak tahu batas-batas kebebasannya, yang menggunakan kebebasannya untuk keuntungan dirinya sendiri.
Cara Pertama: Berpikirlah
Satu hal subtantif yang membedakan manusia dengan hewan adalah: kreativitas.
Bisa dikatakan manusia Indonesia sekarang hampir kehabisan urat-urat kreativitas di otak dan hatinya. Memang benar jika kenyataan yang ada saat ini sedang gencar-gencarnya istilah anak muda kreatif, baik itu dari sisi seni maupun ideologi. Namun sebenarnya kelakuan itu hanyalah sebuah usaha mereka untuk memperdampingkan konsep senyatanya dan seharusnya sehingga menghasilkan suatu bumi yang harmonis (menurut mereka). Persinggungan konsep tersebut adalah implikasi miring dari tekanan yang diterima dari bumi yang sesungguhnya. Ketika bumi yang ada di angan mereka tak pernah menjadi riil dalam bumi yang sesungguhnya, maka tanpa disadari lahirlah di benak mereka sebuah konsep baru yang saya sebut sebagai: membumikan surga. Konsep membumikan surga inilah yang oleh orang-orang picik berpikiran sempit disebut sebagai kreativitas. Di sini letak kesalahaannya. Apa yang mereka sebut dan agung-agungkan sebagai kreativitas ternyata hanyalah sebuah praktik sosial biasa, dan praktik sosial hanyalah jelmaan eksistensi dari sebuah ideologi, yaitu ideologi membumikan surga. Oleh sebab itu, hal tersebut tak dapat dikatakan sebagai kreativitas. Karena kreativitas itu bukan timbul dari sebuah ideologi, namun adalah dari unsur God-Thinking (pemikiran Tuhan – meminjam istilah Merleau-Ponty).
Pada beberapa kasus, kreativitas diartikan sebagai the ability to use the imagination to develop new and original ideas or things, especially in artistic context. Dengan mengetahui apa itu kreativitas, maka perbaikan cara pikir manusia Indonesia sekarang tak lagi irrasional untuk terjadi.
Pancasila dari Sisi Akademis
Sebelum kita berpikir kreatif mengenai Pancasila, sangat diwajibkan untuk kita memahami Pancasila via akademis. Di sisi lain ruang pemikiran yang lebih formal (dan kaku), pemahaman Pancasila diharuskan melalui berbagai tahapan pemikiran. Guna mendapatkan pengetahuan Pancasila secara mendalam dan sistematis diperlukan penjabaran dengan menjawab empat pengetahuan ilmiah dalam Pancasila yaitu: pengetahuan deskriptif, pengetahuan normatif, pengetahuan esensi, dan pengetahuan kausal.
Pada pengetahuan deskriptif terhadap Pancasila sangat dibutuhkan dua hal utama. Yang pertama adalah keadaan latar belakang sejarah perumusan kristalisasi pandangan hidup bangsa yang dijadikan sebagai dasar filsafat negara kita yakni sejak sidang pertama BPUPKI 29 Mei 1945 hingga Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang kemudian dilanjutkan dengan Inpres No.12 tanggal 13 April 1968. Yang kedua adalah sifat kesatuan serta bentuk susunan dari Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia dan sebagai pandangan hidup bangsa, yang sifatnya merupakan satu kesatuan organis dan bentuk susunannya adalah hirarkis piramidal serta sila-silanya saling mengkualifikasi.
Berbeda dengan pengetahuan normatif, dalam konteks memahami Pancasila, yaitu dengan penjabaran Pancasila sebagai ciri khas bangs Indonesia yang sudah menjadi kebiasaan: (1) UUD ’45 sebagai rumusan pedoman pelaksanaan Pancasila dalam perundang-undangan secara formal yang bertujuan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta untuk mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; (2) Penghayatan dan pengamalan pancasila yang dibedakan pengamalan obyektif yaitu yang dituang dalam UUD ’45 yang langsung dipancarkan dari Pancasila, dan pengamalan subyektif yaitu dirumuskan dalam Eka prasetia Pancakarsa.
Lain lagi dengan pengetahuan esensi tentang Pancasila, yang akan dipelajari adalah: (1) Isi arti Pancasila yang merupakan konsep dari masing-masing sila sebagai inti mutlaknya yang bersifat abstrak umum universal. Konsep dasarnya adalah ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kekeluargaan dan keadilan. (2) Pokok isi ajaran tiap sila adalah merupakan jawaban dari pertanyaan: apa sebenarnya Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa?
Bagian terakhir adalah pengetahuan kausal tentang Pancasila: (1) Tinjauan historis Pancasila untuk menelaah asal mula Pancasila ditetapkan sebagai dasar Indonesia Merdeka dengan menerapkan teori kausalitas yaitu asal mula materi, tujuan, bentuk dan karya. (2) Bahan dasar untuk merumuskan Pancasila. Landasan ini dibuktikan juga dalam perkembangan masyarakat, sejak manusia ada sampai sekarang, sejak fase berburu hingga fase industri.
Berpikir Kreatif Apa itu Pancasila
Mengerti, mengenal, dan memahami apa itu Pancasila bagi benak manusia Indonesia sekarang khususnya mahasiswa sebenarnya adalah hal yang sama dalam menetukan mana yang terlebih dahulu, ayam atau telur. Rumit ruyam tak berujung. Namun sebenarnya mudah, karena untuk menjawabnya hanya perlu melihat sang objek dari sudut pandang lain yang berbeda. Seperti halnya menjawab pertanyaan apa itu gula? Gula itu adalah suatu yang manis. Tapi madu juga manis, lalu apa itu gula? Gula itu bentuknya kecil dan putih. Namun pasir di pantai juga kecil dan putih, lalu apa itu gula? Karena tak ada yang pasti di dunia ini selain ketidakpastian, maka jalan termudah untuk menjawab pertanyaan tadi adalah hanya dengan ketidakpastian itu sendiri. Mudahnya adalah, gula itu bukan garam. Selesai. Cukup dengan jawaban bersifat tidak pasti untuk menjawab pertanyaan definitif. Hal ini berlaku juga dalam memahami apa itu Pancasila.
Mengutip perkataan Confusius ketika ia ditanya: “Apakah yang mula-mula dikerjakan jika anda adalah pemimpin negara?” Jawabnya, “Mula-mula yang saya kerjakan adalah menerbitkan semua istilah yang ada di dalam negara agar tiap-tiap istilah tidak mempunyai tafsiran yang kacau. Dengan demikian seluruh warga dan aparat dapat melakukan semua tugas dan kewajibannya dengan tepat”. Pentingnya pengertian istilah dalam hal kenegaraan menjadi kebutuhan mendesak jika kita ingin mengetahui sebuah konsep yang menjadi dasar filsafat negara.
Jika dipikir lebih matang dan tenang, pemahaman tentang Pancasila di negara ini telah terkikis sesering upacara bendera tiap Senin diadakan. Berani bertaruh bahwa sebagian besar murid SD hingga SMA yang setiap Senin dicekoki dengan teriakan pembukaan UUD’45 tak pernah tahu yang dibacakan itu sebelumnya adalah mukadimah Piagam Jakarta. Bahkan lebih pasti mereka tak pernah sadar terdapat sembilan tokoh paling hebat dalam sejarah Indonesia terlibat diskusi satu meja merembuk hari-hari depan Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. A.A Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakir, H.A. Salim, Mr. Achmad Subardjo, Wachid Hasjim, Mr. Muhammad Yamin). Atau mungkin yang lebih menakutkan, sebagian murid-murid tersebut tak pernah tahu apa itu Pancasila.
Perlu kita ingat satu sejarah penting ketika Soekarno sang pemimpin besar revolusi di dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 antara lain berbunyi: “Saudara-saudara! Dasar negara telah saya sebutkan, lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetap saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. Kelima sila tadi berurutan sebagai berikut: (a) Kebangsaan Indonesia, (b) Internasionalisme atau peri-kemanusiaan, (c) Mufakat atau domokrasi, (d) Kesejahteraan sosial, (e) Ke-Tuhanan.”
Pidato menggebu a la Soekarno itu seakan menegaskan paham marhaenisme yang telah ia godok jauh sebelum Pancasila. Kelima sila dari Pancasila tersebut seirama dengan marhaenisme Soekarno, dengan satu pembeda yaitu Ke-Tuhanan. Kebangsaan Indonesia berarti sama dengan nasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan nasionalisme milik San Min Cu I milik Dr. Sun yat Sen. Internasionalisme atau peri-kemanusiaan berarti sama dengan internasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan internasionalisme (kosmopolitanisme) milik A. Baars. Mufakat atau demokrasi berarti sama dengan demokrasi dalam marhaenisme, juga sama dengan demokrasi dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen. Kesejahteraan sosial berarti sama dengan keadilan sosial dalam marhaenisme, juga berarti sama dengan sosialisme dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen. Ke-Tuhanan yang diambil dari pendapat-pendapat para pemimpin Islam, yang berbicara lebih dahulu dari Soekarno, di dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945.
Lebih mendalam lagi, jika digali akan terteralah pemahaman inti dari sebuah Pancasila yang begitu luasnya dengan memeras hingga menjadi satu etintas termurni. Diawali dengan lahirnya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, menyatakan “Pembubaran kostituante dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar 1945”, Rumus Pancasila mengalami perubahan, baik redaksinya maupun pengertiannya secara esensial dan mendasar. Sebab setelah itu Soekarno merumuskan Pancasila dengan menggunakan Teori Perasan yaitu Pancasila itu diperasnya menjadi Trisila: (a) Sosionasionalisme, yang mencakup kebangsaan Indonesia dan peri kemanusiaan, (b) Sosio-demokrasi, yang mencakup demokrasi dan kesejahteraan sosial, dan (c) Ke-Tuhanan. Trisila ini diperas lagi menjadi Ekasila, yang tidak lain ialah Gotong Royong, dan konsep Gotong Royong tersebut diwujudkan oleh Soekarno dalam bentuk NASAKOM (Nasionalis, Agamis, dan Komunis).
Teori Perasan ini bukanlah masalah baru, tetapi itulah hakekat Pancasila yang Soekarno sendiri lahirkan pada tanggal 1 Juni 1945, dan hal ini dapat dilihat dari pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPKI, yang antara lain berbunyi, “Atau barang kali ada saudara-saudara yang tidak senang atas bilangan itu? Saya boleh peras sehingga tinggal tiga saja. Saudara tanya kepada saya apakah perasan tiga perasan itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia,weltanschaung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan, saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan sosio-nationalisme. Dan demokrasi yang bukan demokrasi barat, tetapi pilitiek economiche democratie, yaitu pilitiek democratiedengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan saya peraskan pula menjadi satu. Inilah yang dulu saya namakan sociodemocratie.” Tersisa satu lagi yang tak perlu dijelaskan, yaitu ke-Tuhanan, yang menghormati satu sama lain.
Alangkah hebatnya negara kita, sebuah negara gotong royong, negara dengan pijakan sosialisme purba. Sayang, mahasiswa-mahasiswa beringas angkatan ’66 memberangus cita-cita luar biasa Soekarno, dan tanpa sadar angkatan ’66 menjadi garda depan kepentingan Blok Barat untuk menaikan Soeharto. Memalukan.
Sebuah kesalahan subtantif telah berakar pada urat nadi calon penerus bangsa kita. Manusia Indonesia sekarang hampir tak paham benar apa itu Pancasila, dan lebih parahnya mereka mungkin tak paham dasar-dasar bangsa ini. Pendidikan semu telah merecoki pemikiran mereka sejak SD, SMP, SMA, bahkan di bangku Perguruan Tinggi. Pengajaran tentang Pancasila tak disertai dengan pembekalan tentang kenikmatan mengetahui sejarah. Buruknya, pencekokan asal-asalan seperti itu mengakibatkan tak bekerjanya kemampuan kreativitas mereka sehingga hanya membuat mereka menjadi boneka robot seragam ahistoris yang mengucapkan apa yang disuap seakan tak punya daya cerna dan kemampuan berpikir kritis. Padahal, di kenyataannya, banyak sekali pundi-pundi sejarah Indonesia, terutama dalam hal dasar-dasar berbangsa, yang rapuh serta rawan kritik. Sebagai contoh, mengapa lambang negeri ini adalah burung Garuda yang dalam hitung-hitungan logis bukanlah berasal dari budaya asli kita? Mengapa bukan ular sawah, yang adalah simbol pelindung petani? Mengapa bukan ikan pesut simbol pelindung nelayan, yang diasumsikan sebagai kaum pedagang? Mengapa bukan babi hutan simbol pelindung para penyadap nira, yang dianalogikan sebagai kaum buruh? Atau mengapa bukan Banteng simbol pelindung pemburu, yang dianggap sebagai perwujudan tentara? Padahal simbol-simbol ini telah jelas tercatat dalam kitab kuno Tantu Pagelaran, budaya kita sendiri.
Contoh lain yang patut dipertanyakan adalah mengapa bendera kita berwarna merah dan putih? Apakah ini berasal dari gula lan klapa, merah lambang gula dan putih lambang buah nyiur yang telah dikupas? Atau jangan-jangan terjadi kesalahkaprahan selama bertahun-tahun? Jangan-jangan warna bendera kita yang paling tepat adalah warna merah tanah, karena yang benar adalah gulaklapa(tanpa lan –gulakelapa berwarna merah tanah), yang diartikan sebagai simbol dari ibu pertiwi, tanah air. Kenyataan juga mendukung bahwa selama berabad-abad bendera kerajaan-kerajaan di Indonesia hampir sebagian besar berwarna demikian.
Menyedihkan memang jika terbayang bahwa ternyata manusia Indonesia sekarang tak pernah memikirkan hal-hal penting seperti ini. Isi otak mereka telah penuh sesak oleh ajaran-ajaran ekonomi kapitalis yang memaksa mereka terus bersaing lalu melupakan ekonomi sosialis yang sesungguhnya lebih berguna bagi bangsa cantik seperti Indonesia. Mereka mungkin tak pernah terbisik setitik pun apa itu konstitusi, dan bagaimana di dalam konstitusi terdapat spirit bernama falsafah Pancasila dan tubuh bernama UUD ’45.
Kerupuk Menjadi Besi
Mungkin kebudayaan bangsa ini sudah menjadi kerupuk. Jika kebudayaan adalah sebuah sistem termodinamis, yaitu sistem yang melakukan transformasi energi, maka berhasil lah apa yang telah dirumuskan oleh Leslie White pada ‘hukum’ evolusi kebudayaan karangannya, yakni C = E x T (C: kultur, E: energi, T: teknologi), yang berarti evolusi kebudayaan merupakan perubahan sebuah sistem yang melakukan transformasi energi dengan bantuan teknologi, dan dengan teknologi yang berkembang pesat seperti sekarang, seakan ingin mencipta post post post dan post modernisme, sehingga bertranformasilah kebudayaan Indonesia menjadi kebudayaan mental tempe saus kacang plus kerupuk.
Mari mulai melangkah dengan merubah jalan pikiran versi kerupuk itu menjadi besi baja kuat anti melempem. Siapa pun yang berpikiran waras di negeri ini dan mau merenungkan apa sebenarnya yang diwujudkan lewat sumpah para pemuda 1928, revolusi nasional 1945, upaya mahasiswa 1966, gerakan Malari 74, atau reformasi 1998, tentu akan mendukungnya.